Rekomendasi Chanel Youtube dengan Konten Horor
Kabut tipis selalu turun menyelimuti jalanan protokol setiap kali jarum jam mendekati pukul tiga pagi. Bagi Dina, seorang pekerja sif malam di sebuah rumah sakit, Halte Pelita adalah satu-satunya harapan untuk bisa pulang. Halte tua beratap seng berkarat itu terkenal sepi dan remang-remang, hanya diterangi oleh satu lampu jalan yang sering berkedip-kedip.
Malam itu, suhu udara terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Ketika Dina duduk di bangku semen halte, ia menyadari bahwa ia tidak sendiri. Di ujung bangku lainnya, duduk seorang wanita bergaun putih lusuh dengan rambut hitam panjang terurai menutup seluruh wajahnya. Wanita itu membisu, duduk sangat tegak tanpa sedikit pun pergerakan napas.
Dina berusaha mengabaikannya dan memainkan ponselnya. Namun, ada sesuatu yang membuat nalurinya berteriak bahaya. Lampu jalan di atas mereka memancarkan cahaya kuning yang cukup terang ke jalanan. Dina memperhatikan bayangannya sendiri terbayang jelas di tanah. Tetapi, di samping bayangannya... tidak ada bayangan dari wanita bergaun putih itu. Tanah di bawah kaki wanita itu bersih, seolah-olah ia hanya bayangan hampa yang menempel di udara.
Sebelum rasa panik Dina meluap, deru mesin tua yang berat terdengar dari kejauhan. Sebuah bus berwajah kusam tanpa lampu utama dan tanpa plat nomor berhenti tepat di depan halte. Pintunya terbuka secara perlahan dengan suara derit besi berdengung tajam. Tidak ada sopir di kursi kemudi, hanya ada kegelapan pekat di dalam gerbong bus tersebut.
Wanita bergaun putih itu berdiri secara kaku. Lehernya berputar sembilan puluh derajat ke arah Dina dengan gerak patah-patah. Dari balik helai rambutnya yang pekat, terlihat sepasang mata merah menyala dan senyum lebar yang merobek hingga batas telinga.
"Bus ini tidak berhenti di pemukiman orang hidup... ikutlah, bagianmu sudah disiapkan di belakang," bisiknya dengan suara gema ganda yang bergema di dalam kepala Dina.
Lampu halte mendadak padam total. Suara deru angin malam bertiup kencang membawa bau tanah kuburan yang basah, dan pintu bus itu mencengkeram pergelangan kaki Dina dengan sangat kuat.
Comments
Post a Comment
Yuk, kasih komentar terbaik kamu.
INGAT!!
Berkomentarlah dengan bijak dan baik.