Posts

Paling banyak dibaca Nih, hihihi

Rekomendasi Chanel Youtube dengan Konten Horor

Image
Assalamualaikum Wahai para readersku yang aku cintai 🙊😅 Kembali lagi saya untuk menulis di blog saya tercinta 😊 setelah sekian lama ngak nulis karena kesibukan di  dunia nyata 😂 Kali ini saya akan menulis tentang Chanel Youtube dengan Konten Horornya. Kalau biasanya Youtubers bikin video menyenangkan semacam vlog ,  cover lagu, membuat  tutorial,  bermain  game,  dan lain sebagainya, kalau 3 Channel Youtubers lokal ini punya segmen misteri dan  horror  yang paling dinanti - nanti oleh para  subscriber- nya. Langsung saja. 1. Ewing HD   Siapa sih yang ngak kenal sama bang Ewing ataubyang biasa dikenal dengan bang Ewing HD??  Kalau kalian pecinta chanel Youtube horor pasti chanel Ewing HD sudah pasti ada dilist chanel horor yang menjadi favorit kalian.   Kenapa?  Ya karena chanelnya bang Ewing sangat berkualitas. Dengan chanel "Malam Jumat"nya, bang Ewing sangat suk...

Horror Short Story : Pohon Beringin di Ujung Desa: Penunggu Baru Pohon Beringin

Image
 Tiga hari setelah Raka dinyatakan hilang, desa kembali terlihat normal. Terlalu normal. Tak ada tahlilan. Tak ada pencarian lanjutan. Seolah semua warga sepakat untuk melupakan . Aku tahu ada yang tidak beres saat melihat Bu Rini, penjaga warung dekat sekolah, menutup tokonya lebih awal. “Jangan pulang lewat ujung desa,” katanya pelan padaku. “Sekarang… penunggunya sudah lengkap.” Malam itu, hujan kembali turun. Dari jendela rumah kontrakan, aku melihat cahaya motor berhenti di dekat pohon beringin. Seorang pemuda turun, memeriksa bannya yang kempes. Aku ingin berteriak memperingatkan. Tapi suaraku tercekat saat melihat sosok berdiri di bawah beringin . Itu Raka. Atau sesuatu yang memakai wajahnya. Tubuhnya berdiri kaku, matanya kosong, kulitnya pucat kehijauan. Saat pemuda itu menoleh, Raka tersenyum—senyum yang terlalu lebar untuk manusia hidup. Akar beringin bergerak pelan, merayap ke aspal. Keesokan paginya, warga menemukan helm dan motor tanpa pemilik. Sejak i...

Horror Short Story : Pohon Beringin di Ujung Desa: Urban Legend yang Membuat Orang Tak Pernah Pulang

Image
Cerita horor urban legend tentang pohon beringin angker di ujung desa. Konon, siapa pun yang melewatinya setelah magrib akan menghilang selamanya. Di Desa Su****h, ada satu aturan yang tak pernah tertulis, tapi selalu ditaati: jangan lewat pohon beringin di ujung desa setelah matahari terbenam. Pohon itu berdiri sendirian di persimpangan jalan lama. Batangnya besar, menghitam, dan akar gantungnya menjulur sampai ke tanah seperti tangan-tangan kurus yang siap mencengkeram siapa saja. Anehnya, meski sudah puluhan tahun, tak satu pun warga berani menebangnya. Mereka menyebutnya Beringin Ka***n . Konon, sebelum desa ada, tempat itu adalah lokasi penghilangan orang. Para sesepuh bilang, arwah-arwah yang mati tidak wajar “dititipkan” di sana. Pohon itu tumbuh dari tanah yang kenyang darah dan tangisan. Raka, seorang guru honorer pendatang, menganggap cerita itu hanya cara orang desa menakut-nakuti anak kecil. Hingga suatu malam, ia pulang lewat jalan itu. Hujan turun deras. Jalan utama terg...

Horror Short Story: Sumur Penggu Malam Senyap

Image
Sejak kecil, sumur tua di halaman belakang rumah itu sudah menjadi bahan bisik-bisik seram antar tetangga. Konon, sumur itu bukan sekadar tempat mencari air—tapi juga rumah dari sesuatu yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang . Aku tidak percaya pada cerita-cerita mistis itu. Sampai suatu malam, aku terjaga oleh suara gemericik air yang entah datang dari mana. Rumah ini sunyi — tak ada hujan, tak ada orang. Tapi suara itu tetap bertambah keras, seperti ada yang… menimba dari dalam sumur. Dengan senter di tangan, aku melangkah menuju halaman belakang. Angin malam menusuk tulang. Ketika cahaya senterku menyapu permukaan sumur, aku melihat sesosok berdiri di sana. Awalnya kurasa itu manusia biasa. Ia menunduk, seolah sedang menimba… tapi tidak pernah sekali pun aku mendengar suara timba itu dicelupkan ke air. Aku memanggil pelan. “Halo?” Sosok itu menoleh dengan perlahan. Matanya kosong, kulitnya pucat seperti kapur, dan mulutnya tidak bergerak—tapi suara itu tetap keluar, samar ...

Horror Short Story: SCP-XXXX — Jangan Matikan Suara

Image
Aku selalu tidur pakai earphone. Bukan karena suka musik. Tapi karena kamar kosku terlalu sunyi kalau malam. Sunyi yang bikin pikiran muter ke mana-mana. Jadi aku biasakan nyetel white noise, hujan palsu, atau suara kipas. Malam itu, jam di HP nunjuk 02:13 . Playlist tiba-tiba berhenti. Aku buka mata. Layar HP menyala sendiri. Bukan aplikasi musik—tapi voice recorder . Sedang merekam. Aku belum sempat pencet apa pun, tapi indikatornya jalan. Detik terus bertambah. Aku mau matiin. Jari belum nyentuh layar. Dari earphone, terdengar suaraku sendiri. Pelan. Napas berat. Seolah direkam sangat dekat dengan mulut. “Jangan dimatikan.” Aku langsung duduk. Aku nggak ngomong apa-apa. Tapi rekaman itu lanjut. “Kalau kamu matikan, aku lanjut di luar.” Aku copot earphone. Sunyi langsung nyerang kamar. Jam dinding berdetak terlalu keras. Kulkas kos di luar kamar bunyi klik . HP masih merekam. Aku buka hasil rekamannya. Durasi: 00:00 . Kosong. Lalu muncul file baru. Nama filenya bikin tenggorokanku ke...

Horror Short Story: SCP-XXXX — “Jangan Baca Namamu Keras-Keras”

Image
Malam itu hujan turun pelan. Bukan hujan deras yang rame, cuma gerimis yang bikin lampu jalan kelihatan kayak punya halo tipis. Aku baru aja nyampe kos, celana masih lembap, dan kepala masih penuh tugas yang (jujur) aku tunda-tunda. Di depan pintu kamar, ada amplop cokelat. Nggak ada nama pengirim. Nggak ada perangko. Cuma satu stiker kecil berbentuk lingkaran, warnanya pudar, dan ada tulisan yang bikin aku otomatis mengernyit: “Untukmu. Jangan dibuka kalau kamu sedang sendirian.” Aku ketawa kecil. Refleks. Karena otak manusia itu kadang defensif—kalau ada yang aneh, kita pura-pura itu bercanda. Dan ya… aku sendirian. Aku tetap masukin amplop itu ke meja. Niatnya: “Nanti aja.” Tapi benda-benda seperti itu nggak pernah mau “nanti”. Mereka punya cara sendiri buat narik perhatian. Lima menit kemudian, listrik kamar nge- drop . Lampu mati. Kipas berhenti. Suara hujan di luar jadi lebih jelas—ketukan halus di jendela, kayak jari-jari yang sabar. Aku nyalain senter dari HP. Cahaya putih memo...

Horror Short Story: Jalan Kuburan Air

Image
Di desaku ada satu jalan setapak kecil yang membelah sawah menuju sungai, dan semua orang sepakat untuk tidak melewatinya saat magrib tiba. Jalan itu dikenal dengan nama Jalan Kuburan Air, bukan karena ada makam di sana, melainkan karena dulu pernah ada seorang perempuan yang hilang dan ditemukan meninggal di dekat aliran sungai setelah terseret banjir. Sejak itu, orang-orang percaya bahwa setiap senja ada sosok yang berjalan pelan menyusuri pematang, membawa selendang basah dan rambut panjang menutupi sebagian wajahnya. Aku baru kembali ke desa setelah bertahun-tahun merantau, dan menganggap semua itu hanya cerita lama yang dilebih-lebihkan. Sore itu, karena ingin cepat sampai ke rumah, aku memilih jalan pintas melewati pematang meski matahari sudah hampir tenggelam. Cahaya jingga memantul di permukaan air sawah, dan angin berembus pelan membawa bau lumpur yang khas. Saat itu aku mulai merasa tidak sendirian, seolah ada langkah lain yang mengikuti dari belakang. Ketika aku menoleh, k...

Horror Short Story: Ayo, Aku Antar Pulang!

Image
Tidak ada yang benar-benar tahu kapan legenda tentang Halte Jam 00.00 mulai dipercaya, tapi semua orang di kota ini sepakat bahwa halte tua di ujung Jalan Kartini sebaiknya dihindari setelah tengah malam. Halte itu sudah lama tidak dipakai sejak jalur bus dialihkan, namun entah kenapa, setiap pukul dua belas malam selalu ada satu orang yang berdiri di sana, menunggu bus yang tidak pernah datang. Orang-orang menyebutnya sebagai “penumpang terakhir”. Malam itu aku pulang terlalu larut setelah lembur dan memutuskan memotong jalan lewat Jalur Kartini agar lebih cepat sampai kos. Saat melintas, pandanganku tertumbuk pada sosok perempuan berdiri tepat di bawah lampu halte yang berkedip-kedip redup. Dia mengenakan seragam putih seperti siswi, membawa tas selempang lusuh, dan menundukkan kepala seolah sedang membaca sesuatu di ponselnya. Padahal jam di ponselku menunjukkan pukul 00.07. Tidak ada jadwal bus. Tidak ada alasan siapa pun berdiri di sana. Aku mempercepat langkah, tapi rasa penasar...