Rekomendasi Chanel Youtube dengan Konten Horor
Batu Besar di pos tiga Gunung Gemuruh terkenal sebagai batas antara alam manusia dan perkampungan yang "tidak terlihat". Niat awal hanya ingin melepas lelah, tiga pendaki ini justru terjebak dalam transaksi yang membayar dengan nyawa.
Jam menunjukkan pukul 01.15 WIB. Udara dingin menusuk tulang hingga ke dalam tenda. Wisnu terbangun karena rasa haus yang tak tertahankan. Saat hendak meraih botol minumnya, ia menyadari tenda mereka tidak lagi sunyi.
Dari balik kain tenda yang tipis, terdengar riuh suara tawar-menawar, derap langkah kaki yang lalu lalang, serta aroma wangi bunga kantil bercampur asap kemenyan yang sangat tajam.
"Rian... Bayu... bangun," bisik Wisnu sambil menggoyang badan kedua temannya.
Bayu yang terbangun langsung mengucek matanya bingung. "I-ini suara apa? Kok rame banget kaya ada pasar di luar?"
Rian, yang penasaran dan meremehkan pantangan, perlahan membuka ritsleting pintu tenda. Betapa kagetnya mereka saat melihat pemandangan di luar.
Hutan rimba yang tadinya gelap gulita kini dipenuhi obor-obor melayang. Tampak deretan lapak kayu bertumpuk dengan sosok-sosok manusia berbonjot kain lusuh yang lalu lalang. Di salah satu lapak, seorang wanita berkonde hitam duduk membelakangi mereka, memajang tusukan daging berwarna kehitaman yang mengeluarkan aroma sangat gurih.
Tanpa sadar, Rian terhipnotis dan melangkah keluar dari tenda.
"Rian! Jangan ke sana!" teriak Wisnu tertahan, namun suaranya seolah diredam oleh gema riuh pasar tersebut.
Rian mendekati lapak itu. Wanita berkonde tersebut berbalik perlahan—wajahnya rata, tanpa mata, hidung, maupun mulut. Hanya ada lubang menganga bergerigi di bagian lehernya. Sosok itu menyodorkan sepotong daging sambil mengulurkan tangan meminta bayaran. Tanpa sadar, Rian merogoh saku jaketnya dan menyerahkan selembar koin kuno yang ia temukan di jalur pendakian siang tadi.
Begitu koin berpindah tangan, seluruh obor mendadak padam secara bersamaan. Bress! Suara keramaian hilang seketika, digantikan oleh lolongan anjing hutan yang melengking panjang.
Wisnu dan Bayu langsung berlari menarik Rian kembali ke dalam tenda. Rian terduduk lemas dengan mata melotot kosong. Di genggaman tangannya, daging gurih yang tadi ia terima telah berubah menjadi segumpal tanah kuburan yang dipenuhi belatung hidup.
Ketika fajar tiba dan mereka bergegas turun gunung tanpa henti, petugas pos pendakian memandang mereka dengan wajah pucat.
"Kalian berkemah di dekat Batu Besar semalam?" tanya petugas itu dengan suara gemetar. "Koin yang temannya Mas ambil kemarin itu bukan jimat... itu uang retribusi untuk masuk ke Pasar Setan. Sekali kamu bertransaksi di sana, namamu sudah tercatat di daftar jualan mereka."
Dan sejak malam itu, Rian tidak pernah benar-benar "pulang". Setiap kali tidur, ia selalu bermimpi berdiri di depan lapak yang sama, menunggu giliran untuk dijual.
Comments
Post a Comment
Yuk, kasih komentar terbaik kamu.
INGAT!!
Berkomentarlah dengan bijak dan baik.