Rekomendasi Chanel Youtube dengan Konten Horor
Malam itu hujan turun pelan. Bukan hujan deras yang rame, cuma gerimis yang bikin lampu jalan kelihatan kayak punya halo tipis. Aku baru aja nyampe kos, celana masih lembap, dan kepala masih penuh tugas yang (jujur) aku tunda-tunda.
Di depan pintu kamar, ada amplop cokelat.
Nggak ada nama pengirim. Nggak ada perangko. Cuma satu stiker kecil berbentuk lingkaran, warnanya pudar, dan ada tulisan yang bikin aku otomatis mengernyit:
“Untukmu. Jangan dibuka kalau kamu sedang sendirian.”
Aku ketawa kecil. Refleks. Karena otak manusia itu kadang defensif—kalau ada yang aneh, kita pura-pura itu bercanda.
Dan ya… aku sendirian.
Aku tetap masukin amplop itu ke meja. Niatnya: “Nanti aja.” Tapi benda-benda seperti itu nggak pernah mau “nanti”. Mereka punya cara sendiri buat narik perhatian.
Lima menit kemudian, listrik kamar nge-drop. Lampu mati. Kipas berhenti. Suara hujan di luar jadi lebih jelas—ketukan halus di jendela, kayak jari-jari yang sabar.
Aku nyalain senter dari HP. Cahaya putih memotong gelap.
Amplop cokelat itu… sekarang ada di atas kasur.
Padahal aku tadi ninggalinnya di meja.
Aku berdiri, bengong, jantung mulai terasa nggak enak. Bukan takut yang meledak, tapi takut yang merambat. Pelan. Dingin. Nempel.
Aku ambil amplop itu dengan dua jari, seolah takut kena sesuatu.
Di dalamnya ada beberapa lembar kertas. Formatnya rapi. Terlalu rapi untuk sesuatu yang muncul tanpa undangan.
Di halaman pertama, ada judul tebal:
SCP-XXXX
Kelas Objek: EuclidProsedur Penahanan Khusus:SCP-XXXX harus disimpan di dalam map arsip kedap cahaya. Dilarang keras membaca isi SCP-XXXX sendirian. Minimal dua personel harus hadir saat interaksi. Personel dilarang menyebut nama lengkap mereka di dekat SCP-XXXX. Bila subjek mulai mendengar “bisikan yang menirukan suara sendiri”, prosedur lampu menyala penuh segera dilakukan.Deskripsi:SCP-XXXX berupa kumpulan dokumen yang selalu “menemukan” individu tertentu, biasanya saat individu berada dalam kondisi lelah, sendirian, dan memiliki kecenderungan membaca hal-hal berbau misteri/horor di malam hari. Saat dibaca, dokumen akan menampilkan informasi personal yang meningkat akurasinya seiring waktu. Efek utama SCP-XXXX adalah pemanggilan fenomena auditif berupa suara yang menirukan intonasi pembaca, namun terdengar “setengah detik terlambat”.Efek sekunder: kemunculan teks tambahan pada dokumen yang hanya bisa dibaca oleh target utama, berupa instruksi sederhana.
Catatan:Instruksi tersebut selalu terlihat tidak berbahaya. Dan selalu berakhir jadi kesalahan terakhir.
Aku nelen ludah.
Ini… prank?
Atau semacam proyek kreatif? Tapi aku nggak pernah pesen apa pun.
Lalu aku lihat halaman berikutnya. Ada bagian “Log Interaksi”. Dan di situ tertulis:
Waktu: 21:47Lokasi: kamar kos lantai 2, dekat warung pecel leleTarget: [NAMAKU]
Aku langsung duduk. Bukan karena capek. Karena lututku tiba-tiba lemes.
Kalimat di bawahnya nyambung, dan aku baca pelan-pelan—kayak kalau aku baca cepat, sesuatu bakal keburu kejadian.
Target menemukan SCP-XXXX di depan pintu kamar. Target tertawa kecil dan berniat menunda membacanya.Pada menit ke-5, listrik padam. SCP-XXXX berpindah dari meja ke kasur.Target menyalakan senter dari ponsel dan mulai membaca “Deskripsi”.
Aku berhenti.
Aku ngangkat kepala, menatap gelap kamar yang cuma diterangi senter HP.
Lalu, dari arah pintu… ada suara.
Pelan. Serak. Kayak orang yang ngomong sambil nahan napas.
“…aku berhenti.”
Aku membeku.
Suara itu barusan ngulang kata-kata yang ada di kepala aku. Bukan dari mulutku. Tapi… dari luar.
Aku menoleh ke pintu. Gelap. Nggak ada apa-apa. Tapi aku tahu ada sesuatu di sana. Rasanya kayak kalau kamu berdiri di depan cermin gelap, dan kamu sadar… pantulanmu telat gerak sepersekian detik.
Aku kembali lihat kertas. Dan benar aja—ada teks baru yang tadi nggak ada.
Tulisan miring, kecil, seperti catatan tambahan:
Instruksi untuk Target:1) Sebut namamu pelan-pelan.2) Lalu bilang: “Aku dengar kamu.”
Aku ketawa kecil lagi. Refleks yang sama.
Tapi ketawa itu berhenti di tengah jalan, karena dari arah pintu terdengar…
“…sebut namamu pelan-pelan…”
Nada suaranya sama persis kayak aku.
Cuma… lebih kosong.
Seperti aku yang dibuang dari tubuhku sendiri.
Aku tahu aturan di halaman pertama: jangan menyebut nama lengkap di dekat SCP-XXXX. Tapi justru karena tahu, aku makin pengin melawan. Kepalaku mulai panas, campur aduk antara rasa ingin membuktikan “ini cuma kertas” dan rasa takut yang bilang “jangan”.
Aku berdiri dan melangkah mundur pelan, sampai punggungku nempel ke dinding.
Senter HP bergetar sedikit di tangan.
Di bawah pintu, ada garis gelap. Bukan bayangan. Lebih seperti… sesuatu yang menekan dari sisi lain.
Lalu garis itu bergerak.
Seperti jari yang meraba-raba celah.
Dan suara itu kembali, setengah detik telat dari napasku.
Aku sadar sesuatu: selama ini suara itu ngikutin aku. Bukan ngikutin kata-kata di kertas.
Dia ngikutin aku.
Aku, entah kenapa, balik lagi ke kertas. Tanganku gemetar. Mataku nangkep satu kalimat lagi yang muncul, tepat di bawah instruksi.
Kalau kamu tidak menyebut namamu, dia akan memilihnya sendiri.
Di saat yang sama, suara di pintu berkata, pelan dan nyaris manja:
“…kalau kamu tidak menyebut namamu…”
Aku menutup mulut dengan tangan. Napasku jadi pendek-pendek.
Nama itu pintu.
Aku merobek halaman instruksi itu. Sobekannya keras di tengah sunyi. Aku remas-remas sampai jadi bola kertas, lalu aku lempar ke lantai.
Seolah itu bisa menyelesaikan semuanya.
Seolah.
Suara di pintu berhenti.
Hening.
Lalu—krek.
Pintu kamar kosku… pelan-pelan terbuka sendiri.
Bukan dibuka dengan dorongan. Tapi seperti engselnya diseret dari dalam, perlahan, sabar, menikmati.
Cahaya senter HP menembak celah pintu.
Dan di sana, di balik pintu… ada sesuatu yang berdiri.
Bentuknya seperti manusia. Tinggi. Kurus. Tapi “wajahnya” bukan wajah. Lebih seperti permukaan air hitam yang memantulkan sesuatu… yang bukan aku.
Dia tidak melangkah masuk.
Dia cuma berdiri, miring sedikit, seolah mendengarkan.
Lalu dia mengeluarkan suara yang paling bikin darahku turun ke kaki:
Namaku.
Bukan pelan. Bukan keras.
Tepat.
Dengan intonasi yang selama ini cuma ibu aku yang bisa ucapkan saat manggil dari dapur.
Aku merasa perutku jatuh. Kepalaku kosong.
Dan dari dalam kepalaku—aku dengar suara aku sendiri, setengah detik telat, berbisik:
“…aku dengar kamu…”
Padahal mulutku nggak bergerak.
Aku sadar: SCP-XXXX itu nggak butuh aku ngomong.
Dia cuma butuh aku membaca.
Di kertas terakhir, teksnya berubah. Nggak lagi rapi seperti laporan. Jadi seperti chat pendek yang ditulis buru-buru:
JANGAN JAWAB.JANGAN SEBUT NAMA.TUTUP MATA DAN HITUNG MUNDUR DARI 13.KALAU KAMU DENGAR LANGKAH MASUK, JANGAN BERHENTI HITUNG.
Aku menutup mata.
Langkah itu ada.
Pelan.
Kayak orang jalan tanpa sepatu di lantai yang basah.
Aku pengin buka mata. Aku pengin lari. Tapi rasanya tubuhku bukan milikku lagi.
Suara napasnya… sekarang ada di depan wajahku.
6…
Dan suara aku sendiri—lebih dekat, lebih hangat, lebih bohong—berbisik tepat di telingaku:
“Buka mata… aku cuma mau pulang.”
Aku terus hitung.
2…
Hening.
1…
Aku buka mata.
Kamar tetap gelap. Senter HP masih menyala, tapi jatuh di lantai, menyorot tembok.
Pintu kamar… tertutup rapat.
Di kasur, amplop cokelat itu sudah nggak ada.
Listrik nyala lagi, mendadak, seperti tidak pernah mati.
Aku berdiri lama banget. Nggak berani bergerak.
Sampai akhirnya aku lihat sesuatu di cermin lemari.
Pantulanku menatap balik.
Aku menghela napas lega…
Dan pantulanku menghela napas… setengah detik telat.
Di layar HP, ada notifikasi yang nggak aku buka-buka, muncul sendiri:
Draft postingan baru — “Aku dengar kamu.”
Dan di bawahnya, ada satu baris kecil:
“Tulis namamu di paragraf pertama.”
Comments
Post a Comment
Yuk, kasih komentar terbaik kamu.
INGAT!!
Berkomentarlah dengan bijak dan baik.