Rekomendasi Chanel Youtube dengan Konten Horor
Tiga hari setelah Raka dinyatakan hilang, desa kembali terlihat normal.
Terlalu normal.
Tak ada tahlilan.
Tak ada pencarian lanjutan.
Seolah semua warga sepakat untuk melupakan.
Aku tahu ada yang tidak beres saat melihat Bu Rini, penjaga warung dekat sekolah, menutup tokonya lebih awal.
“Jangan pulang lewat ujung desa,” katanya pelan padaku.
“Sekarang… penunggunya sudah lengkap.”
Malam itu, hujan kembali turun. Dari jendela rumah kontrakan, aku melihat cahaya motor berhenti di dekat pohon beringin. Seorang pemuda turun, memeriksa bannya yang kempes.
Aku ingin berteriak memperingatkan.
Tapi suaraku tercekat saat melihat sosok berdiri di bawah beringin.
Itu Raka.
Atau sesuatu yang memakai wajahnya.
Tubuhnya berdiri kaku, matanya kosong, kulitnya pucat kehijauan. Saat pemuda itu menoleh, Raka tersenyum—senyum yang terlalu lebar untuk manusia hidup.
Akar beringin bergerak pelan, merayap ke aspal.
Keesokan paginya, warga menemukan helm dan motor tanpa pemilik.
Sejak itu, pohon beringin tidak lagi sepi.
Kadang terlihat anak kecil berdiri di akarnya.
Kadang perempuan berambut panjang duduk menangis.
Kadang suara ramai seperti pasar, padahal jalan itu kosong.
Sesepuh desa akhirnya berbicara.
Pohon itu tidak boleh ditebang.
Tidak boleh didoakan.
Tidak boleh diganggu.
Karena setiap beberapa tahun, ia harus diberi penjaga baru.
Dan sekarang, penjaga itu bisa berjalan.
Jika kamu melewati ujung Desa Sukaasih malam hari, dan melihat seseorang melambaikan tangan di bawah pohon beringin—
jangan berhenti.
Jangan menoleh.
Karena yang melambai itu bukan minta tolong.
Ia sedang mencari pengganti.
Comments
Post a Comment
Yuk, kasih komentar terbaik kamu.
INGAT!!
Berkomentarlah dengan bijak dan baik.